Selasa, 12 Agustus 2014

Adakah Rasa Peduli di dalam Transportasi?

Sore hari ketika pulang dari bogor naik kereta saya duduk di gerbong wanita. Apa sih fungsi dari dibeda-bedakannya gerbong? untuk melindungi para perempuan dari perbuatan yang tidak baik. Sudah dua transportasi umum yang memberlakukan pemisahaan tempat khusus wanita, kereta api dan transjakarta. Tapi apakah kalian tau semenjak diberlakukannya pemisahan tersebut para perempuan selalu berebut untuk berada dalam tempat khusus tersebut, karena mereka pikir mereka akan lebih aman dan akan ada rasa peduli sesama perempuan. Tapi nyatanya tidak begitu, setelah diberlakukannya pemisahan tersebut para wanita menjadi egois dan lebih mementingkan diri sendiri. Walaupun sudah ada pemberitahuan yang mengatakan memberikan bangku prioritas untuk ibu hamil, membawa anak, orangtua, dan orang yg berkebutuhan khusus, semua itu secara tidak langsung diabaikan oleh mereka semua, karena mereka berpikir mereka jg cape dan butuh duduk.

Seperti ketika saya pulang, kereta tidak begitu rame dari bogor namun lama-lama menjadi banyak yang naik di setiap stasiun. Saat itu saya mendengar pembiacaraan seorang oma dan ibu-ibu yang membawa anak. kata oma itu "klo mau dapet duduk mah jangan di gerbong wanita bu, mendingan di gerbong campur pasti ibu dapet duduk. buktinya aja ibu dari tadi berdiri ngga ada yg ngasih dudukkan, pdhl ibu bawa anak. Saya jg pernah gitu ngga dikasih duduk, mereka malah diem aja dan tidur." ibu tersebut hanya senyum dan mendengerkan cerita oma tersebut. Dari situ saya sadar bahwa rasa simpati atau peduli antar sesama perempuan itu hilang ketika mereka sudah mendapatkan kenyamanan yg mereka rasakan.

Seperti beberapa waktu lalu yang heboh di jejaring sosial, pemberitaan ttg seorang perempuan yg merasa kesal terhadap ibu-ibu hamil yg selalu ingin mendapatkan tempat duduk. Dari situ bisa dilihat bagaimana keegoisan seorang perempuan terhadap kenyamanan tersebut. Jika kita tanya mungkin ibu-ibu hamil jg tidak ingin terlalu diberikan perhatian ekstra. Tapi karena rasa peduli itulah yg membuat mereka menjadi di prioritaskan. 

Malah para lelaki yang sifat aslinya kadang ingin menang sendiri berubah ketika mereka melihat ada perempuan yang berdiri. mereka lebih cekatan untuk memberikan tempat duduknya kepada orang yang mereka anggap perlu untuk duduk. ternyata begitu kerasnya persaingan dalam mendapatkan tempat duduk, sampai-sampai rasa simpati dikesampingkan demi kenyamanan diri sendiri.